Matematika Bukan Sekedar Ngerjain Soal

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Yang paling saya khawatirkan dari adanya TKA adalah pembelajaran matematika akan sangat tereduksi menjadi sekedar belajar mengerjakan soal-soal. Hal ini sebenarnya wajar. 

Bagaimanapun kepala sekolah ingin agar sekolahnya mendapatkan hasil TKA yang bisa dibanggakan. Akibatnya guru pun dituntut untuk sedini mungkin menyiapkan TKA. Dengan kata lain tentu memperbanyak latihan soal TKA.

Padahal kalau kita membaca capaian pembelajaran matematika ada dua karakteristik belajar matematika yakni elemen konten dan elemen proses. Tanpa salah satu dari keduanya kelas matematika enggak bisa disebut lagi belajar matematika. 

Nah dalam elemen proses itu ada proses komunikasi. Ini yang mustahil bisa dilakukan jika pembelajaran matematika cuma berfokus ngerjain soal.

Sebagai seorang bangsat idealis, saya tentu gak peduli tren rumus cepat yang sekarang bermunculan kembali. Saya usahakan bahwa mereka yang belajar di kelas saya melalui proses yang utuh termasuk komunikasi. 

Kebetulan saya mengajar di kelas 7 yang saat ini masuk di materi matematika finansial. Harusnya kalau ikut tren saya pastikan mereka banyak mengerjakan variasi soal-soal jual-beli, diskon, pajak yang akrobatik. Tapi sekali lagi saya sih bodo amat.

Baca juga : Jadwal Olimpiade Sains Nasional Tahun 2026 Jenjang SD dan SMP Telah Dirilis Puspresnas

Saya memilih jalan lain. Saya berikan mereka sebuah proyek mini untuk menyusun anggaran. Ceritanya mereka adalah CEO dari kedai minuman . Saya sudah sediakan pilihan produk, alat, bahan, beserta harganya.

Tugas mereka adalah merencanakan anggaran agar mendapatkan keuntungan yang paling masuk akal. Dan disinilah serunya.

Perhatikan gambarnya. Mereka saya minta mempresentasikan anggaran agar menarik calon investor (kelompok lain). Berikutnya calon investor itu harus menguji apakah anggaran itu masuk akal. Dari sinilah perdebatan dimulai.

Salah seorang investor bertanya, “Mengapa pembelian es batu itu hanya 4 bal. Apakah itu cukup untuk penjualan selama 4 minggu?”. Kelompok CEO menjawab, “Cukup. Apalagi dalam gambaran mereka jualannya di depan rumah. 

Jadi es batu yang tidak terpakai bisa cepat dikembalikan ke kulkas sebelum mencair”. Jawaban itu meyakinkan si calon investor.

Dari ujung investor lain bertanya meragukan, “Loh kalau jualan depan rumah, kenapa ada biaya transportasi, 10 ribu dikali 6 hari. Bukannya itu pemborosan?”. Wah si CEO gugup tak mengira bantahan itu. 

Baca juga : Unjuk Hasil Kreativitas Lewat Pameran Karya Seni Rupa SMP Santo Yosef Lahat

Untungnya mereka mendapatkan bantuan dari kelompoknya, “begini, uang transportasi 10 ribu itu nantinya juga kami gunakan juga untuk keperluan delivery order”. Jawaban itu meyakinkan calon investor kedua.

Beberapa pertanyaan pun muncul. CEO mencoba untuk mempertahankan gagasannya. Saya yang sedari tadi mengamati merasa bangga sekali. Ternyata ketika murid diberikan kebebasan dan kesempatan mereka bisa memiliki gagasan yang berbeda-beda. Mereka belajar mengkomunikasikan gagasan itu, membantah juga melawannya.

Ya, murid saya mungkin tidak seahli murid-murid lain yang siap melibas segala jenis soal. Tapi saya gak peduli. Bagi saya, masalah yang mereka hadapi kelak bukan soal di kertas tapi masalah nyata yang membutuhkan banyak gagasan untuk dikomunikasikan. 

Sebab tujuan saya mengajar bukan agar skor TKA mereka bisa dipamerkan, tapi agar mereka belajar matematika dengan sebenar-benarnya.

Sudah

NB: mereka mengaku salah menuliskan keuntungan yang seharusnya angka 9 bukan 3. 

Foto: Pngtree

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments