Depoedu.com-Banjir bandang yang melanda 52 kabupaten/kota di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, meluluhlantakan berbagai fasilitas seperti rumah tinggal, infrastruktur seperti jalan dan jembatan, serta rumah sakit dan sekolah.
Dalam siaran persnya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyampaikan bahwa total sekolah yang terdampak di tiga provinsi tersebut adalah 4.149 sekolah, terdiri atas 2.756 sekolah di Aceh, 443 sekolah di Sumatera Barat, dan 950 sekolah di Sumatera Utara.
Dari data yang dihimpun di ketiga provinsi ini, ada 54 sekolah yang rusak berat hingga rusak total. Selain itu ada 587 sekolah yang masih dalam tahap pembersihan, karena timbunan lumpur dan material lainnya. Sekolah-sekolah ini akan membutuhkan waktu pemulihan lebih lama.
Sisanya sudah bersih dan siap digunakan kembali. Kemendikdasmen menegaskan, kini 85 persen kondisi pelayanan pendidikan di daerah-daerah terdampak mulai pulih, sehingga pada tanggal 5 Januari 2026 yang lalu, pembelajaran bagi peserta didik di lokasi sudah dimulai kembali, meskipun ada yang belajar di tenda-tenda darurat.
Baca juga : Perayaan Natal SD Santo Yosef Tarakanita Surabaya, Wujud Sukacita dan Talenta Siswa
Dalam proses pemulihan tersebut, pemerintah menyiapkan 3 skenario yakni, pertama, skenario tanggap darurat (0-3 bulan), kedua, skenario transisi pemulihan (3-12 bulan) dan ketiga, skenario pemulihan lanjutan (1-3 tahun).
Dalam skenario tanggap darurat, yang dilakukan pemerintah adalah penyederhanaan kurikulum pada kompetensi esensial seperti literasi, numerasi, kesehatan dan keselamatan. Ini untuk memudahkan proses belajar mengajar selama masa tanggap darurat.
Sedangkan dalam skenario transisi pemulihan dilakukan melalui penerapan kurikulum yang bersifat adaptif berbasis krisis, dengan pembelajaran fleksibel, serta penerapan asesmen sederhana berbasis portofolio.
Dan dalam skenario pemulihan lanjutan pemerintah akan melakukan pembangunan sekolah baru pada sekolah-sekolah yang rusak total, integrasi pendidikan kebencanaan pada semua sekolah terdampak, dan penguatan mutu pendidikan berkelanjutan juga pada semua sekolah terdampak.
Untuk sekolah-sekolah terdampak tingkat SD dan SMP yang akan menjalani Tes Kemampuan Akademik (TKA), disiapkan kebijakan penyesuaian melalui penambahan sesi dan hari ujian. Bagi sekolah yang belum memungkinkan ujian berbasis komputer, disiapkan alternatif ujian berbasis kertas dan pensil.
Baca juga : ASEAN Scholarships dari Pemerintah Singapura, untuk Pelajar SMP dan SMA Indonesia Dibuka Kembali
Untuk sekolah-sekolah yang ruangan TKA-nya belum siap seluruhnya, skema pelaksanaan ujiannya dilakukan secara bertahap, berdasarkan tingkat kerusakan fasilitas yang dialami. Untuk pemanfaatan hasil TKA, diberikan relaksasi dengan mengizinkan penggunaan nilai rapor, dan bukti prestasi sebagai alternatif jalur prestasi.
Kita berharap agar birokrasi pendidikan di daerah bencana dapat menerjemahkan kebijakan-kebijakan ini secara fleksibel dan kontekstual sehingga pelayanan pendidikan tetap berjalan dengan sebaik-baiknya.
Pada kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah juga menyampaikan terima kasih untuk birokrasi pendidikan di daerah-daerah bencana yang cepat tanggap, bekerja cepat bersama guru dan kepala sekolah di daerah bencana, menyelesaikan berbagai masalah yang muncul di lapangan.
Abdul Mu’ti juga menyampaikan terimakasih untuk dukungan dan solidaritas bagi pemulihan pelayanan pendidikan dalam berbagai bentuk di daerah bencana, dari satuan pendidikan, komunitas pendidikan, serta organisasi profesi pendidikan di seluruh Indonesia.
Foto: Tribunnews
