Pemikiran Cendekiawan Indonesia Soedjatmoko tentang Pendidikan: Pembangunan adalah Proses Belajar

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Jika Ki Hajar Dewantara berkata pendidikan adalah upaya memerdekakan manusia, maka Soedjatmoko atau yang akrab disapa Bung Koko menyatakan pendidikan adalah mengajarkan bangsa cara belajar. 

Soedjatmoko (1922-1989) adalah diplomat kawakan Indonesia yang juga pernah menjabat sebagai Rektor United Nations University di Tokyo pada tahun 1980-1987, dan cendekiawan yang hidup mengglobal, melihat pendidikan bukan sebagai sektor, melainkan sebagai inti dari pembangunan itu sendiri.  

Ungkapan ini, yang sering disampaikan dalam berbagai kesempatan, dapat menjadi kunci untuk memahami seluruh filsafat pendidikannya: “Pembangunan tak bisa hanya diartikan sebagai peningkatan perkapita semata, pembangunan merupakan sesuatu, di mana kita belajar.”

Tulisan ini mencoba memahami gagasan pendidikan Soedjatmoko, dimulai dengan upaya memahami filsafat pendidikannya, tiga kritiknya terhadap pendidikan Indonesia, peran cendekiawan di luar kekuasaan, dan relevansi pemikirannya bagi dunia pendidikan ketika kita berada di awal abad 21. Berikut uraiannya. 

  1. Pembangunan dan kemampuan belajar

Bagi Soedjatmoko, kegagalan negara-negara dunia ketiga terjadi bukan karena kekurangan modal atau sumber daya alam, tetapi karena kegagalan meningkatkan kapasitas kemampuan belajar, baik secara individual maupun secara kolektif sebagai bangsa. 

Soedjatmoko membedakan dua hal: pembangunan sebagai sesuatu yang kita perbuat dan pembangunan sebagai pembelajaran. Orde baru pada masanya sangat fokus pada yang pertama; membangun gedung, pabrik, jalan. 

Soedjatmoko mengingatkan yang kedua; apakah bangsa ini menjadi lebih mampu mengurangi kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan, serta bertahan di tengah dunia yang terus berubah, semakin rumit, tidak stabil, dan penuh persaingan. 

Karena itu, pendidikan dan pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari pembangunan. Pendidikan dan pembelajaran yang meningkatkan kapabilitas  seluruh komponen bangsa. Tanpa peningkatan kemampuan belajar itu, kualitas pembangunan kita tidak membaik, dan itu terlihat dari kualitas pengajaran universitas kita yang tidak bertambah baik. 

Baca juga : Peran Pengawas Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Proses Belajar Mengajar di Sekolah

  1. Tiga kritik Soedjatmoko terhadap pendidikan Indonesia 
  • Pendidikan yang terlalu problem-oriented

Pada saat menjabat sebagai rektor UNU, Soedjatmoko melihat kecenderungan riset di perguruan tinggi termasuk perguruan tinggi kita, hanya berorientasi pada masalah jangka pendek; bagaimana menyelesaikan masalah yang sedang terjadi. Ia menyebutnya sebagai riset borongan. 

Padahal menurut Soedjatmoko, universitas seharusnya melakukan riset yang diprakarsai oleh universitas sendiri, riset yang tidak hanya mengupayakan kemudahan hidup, tetapi riset yang dapat mencegah bencana-bencana yang akan terjadi di bumi. 

Pada saat memimpin UNU, Soedjatmoko aktif mendorong UNU menjadi pusat dialog lintas disiplin tentang kemiskinan, tentang bagaimana mencegah bencana yang disebabkan oleh lingkungan hidup, perdamaian dunia, dan bukan sekedar menumpuk laporan hasil penelitian ilmuwan universitas. 

  • Pendidikan yang melupakan humaniora

Di tengah obsesi universitas mencetak insinyur dan dokter, Soedjatmoko justru bersuara paling keras membela ilmu-ilmu humaniora. Dalam bukunya; Menjelajah Cakrawala (1994) ia menulis: 

“Pendidikan ilmu humaniora (Sejarah, sastra dan bahasa) memberikan sumbangan dalam membentuk kesadaran akan identitas nasional. Identitas itu terus berkembang, melalui berbagai tanggapan terhadap kondisi yang berubah-ubah.”

Tanpa humaniora (sejarah dan sastra), sebuah bangsa akan kehilangan kemampuan evaluasi diri yang kritis dan perdebatan yang ramai. Ini adalah dua syarat untuk mengenali diri sendiri sebagai bangsa. 

  • Pendidikan yang tidak future-oriented dan change-oriented

Soedjatmoko melalui tulisan-tulisannya, memperkenalkan konsep pendidikan regio-humanis. Pendidikan harus menanamkan orientasi umum yang diarahkan pada perubahan dan perbaikan, memupuk kepercayaan pada daya rasional manusia dan kreativitasnya untuk membina masa depan yang lebih baik dari sekarang. 

ia menyebutnya sense of relativity atau kesadaran akan kenisbian: kesadaran bahwa apa yang hari ini kita anggap modern, maju, dan up-to-date, di masa depan akan menjadi usang, kuno dan tidak relevan. Pendidikan harus menyiapkan anak-anak untuk itu, dengan berpikir kritis, adaptif, integratif, konseptual, dan penuh rasa ingin tahu. 

Baca juga : Mengapa Banyak Sarjana Bisa Menganggur? Memahami Fenomena dan Akar Permasalahannya

  1. Peran cendekiawan di luar kekuasaan

Soedjatmoko sangat percaya pada peran cendekiawan. Baginya, sumbangan utama kaum cendekiawan ada tiga; mengubah persepsi bangsa dalam menghadapi persoalan, mengubah kemampuan bagsa dalam menghadapi masalah baru, dan mengubah aturan main dalam pergulatan politik.

Karena itu Soedjatmoko bersikeras, sebagian besar cendekiawan harus berada di luar pemerintahan, berumah di perguruan tinggi, di luar keterlibatan politik langsung, untuk memperkuat pranata cendekiawan dan organisasi sukarela. Itu persyaratan untuk menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan civil society. 

Ia sangat mendorong agar cendekiawan yang berumah di perguruan tinggi menjadi jembatan dialog-silang antar kelompok komunal-primordial. Ia sangat menolak pendidikan, kampus, dan cendekiawan dikooptasi menjadi alat pembangunanisme negara. 

Baginya, tanpa cendekiawan di luar kekuasaan, pendidikan hanya menjadi lembaga penghasil tukang. Lembaga pendidikan seperti itu, hanya akan menghasilkan lulusan yang terampil mengerjakan perintah, tidak pernah mampu belajar untuk mempertanyakan perintah itu sendiri. 

  1. Relevansinya dengan kita di abad 21

Jika kita tarik ke hari ini, pemikiran Soedjatmoko menjawab hampir semua keresahan kita: ketika kita ribut soal ijazah dan penyetaraan, ia akan bertanya;  apakah pendidikan kita sudah meningkatkan kemampuan belajar, atau hanya mengejar selembar kertas?

Ketika kita ribut soal AI dan kurikulum, ia akan menjawab; pendidikan kontekstual yang humanis –yang menjadikan peserta didik sebagai corong proses belajar, menyentuh kehidupan langsung, dan tidak mencabutnya dari fitrahnya– jauh lebih penting daripada sekedar teknologi. 

Dan ketika kampus sibuk mengejar ranking, ia akan mengatakan: universitas harus lebih efektif mengaitkan studi ilmu manusia dan budaya kepada masalah moral, keadilan sosial dalam konteks nasional, regional dan global, serta mencari bentuk masyarakat yang lebih insani dan manusiawi. 

Bagi Soedjatmoko, pendidikan bukan mencetak orang yang tahu jawaban hari ini. Pendidikan adalah tentang mencetak bangsa yang mampu terus belajar untuk menjawab semua pertanyaan yang bahkan belum muncul hari ini. 

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments