Depoedu.com-Kreativitas bukan merupakan bakat alamiah yang dimiliki oleh segelintir orang saja, melainkan merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi, kemampuan mencipta untuk menyelesaikan masalah secara orisional yang dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran di sekolah.
Di abad 21 yang ditandai dengan gencarnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia dituntut untuk selalu berpikir kritis, karena hidup manusia semakin kompleks dan manusia terus dituntut untuk beradaptasi dan terus berinovasi. Di sini sekolah memiliki peran strategis untuk menumbuhkan kreativitas tersebut.
Oleh karena itu, pengajaran harus dirancang untuk melatih siswa berpikir kritis, melatih siswa menyadari masalah, melatih siswa mencari informasi yang diperlukan terkait masalah dan melatih siswa menciptakan cara untuk memecahkan masalah di lingkungan sekitar mereka.
Melalui tulisan ini, saya hendak membahas secara singkat bagaimana pengajaran di sekolah menjadi sarana untuk mengembangkan kreativitas siswa tersebut. Berikut uraiannya:
Tiga hal yang harus diupayakan sekolah
Agar pengajaran di sekolah dapat menjadi sarana pengembangan kreativitas siswa maka Pengelola Sekolah, Kepala Sekolah dan Guru harus menyelenggarakan pengajaran yang berpusat pada siswa, menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan siswa untuk bebas berekspresi dan mengembangkan pembelajaran berbasis masalah.
Agar lebih jelas, saya akan menguraikan ketiga pokok tersebut sebagai berikut:
- Pengajaran yang berpusat pada siswa
Pengajaran yang berpusat pada siswa hanya dapat dilakukan apabila peran guru dalam proses tersebut digeser dari peran sebagai penyampai materi tunggal dalam proses transfer pengetahuan dari guru kepada siswa menjadi peran sebagai fasilitator.
Baca juga : Menembus Batas Era AI: Estafet Baru Kepemimpinan Kosayu dan Sinergi Hebat Orang Tua
Sebagai fasilitator guru hanya memberikan pertanyaan pemantik, bukan memberikan jawaban langsung. Sebagai fasilitator guru mendorong siswa untuk aktif berpikir, siswa didorong untuk berdiskusi, bekerja dalam kelompok, menyadari, menemukan dan merumuskan masalah, dan belajar menyelesaikan masalah.
Selain itu siswa diberi ruang untuk menampilkan dan mempertanggung jawabkan hasil belajar mereka. Dalam hal menampilkan dan mempertanggungjawabkan hasil belajar, siswa diberi fleksibilitas dan otonomi untuk menentukan cara mereka menampilkan hasil belajar mereka, apakah membuat laporan secara tertulis, presentasi di depan kelas.
Proses ini hanya akan berjalan dengan baik apabila semua proses belajar tersebut disesuaikan dengan kesiapan dan kematangan belajar siswa dan siswa dilibatkan sejak dari perencanaan hingga tahap evaluasi. Banyak pengalaman menunjukkan bahwa proses belajar ini sudah dapat dimulai sejak Sekolah Dasar (SD) kelas 3.
- Menyediakan lingkungan belajar yang mendukung kebebasan berekspresi
Untuk menumbuhkan kreativitas, selain pengajaran yang berpusat pada siswa, sekolah perlu menyediakan lingkungan belajar yang mendukung kebebasan berekspresi. Guru perlu menciptakan suasana di mana setiap pendapat dihargai, kesalahan dilihat sebagai hal biasa. Siswa akan enggan mengeluarkan gagasan jika takut dikritik, takut disalahkan.
Dalam hal ini, guru harus dilatih untuk memberikan respon yang suportif, tidak langsung menyalahkan jawaban siswa yang keliru, melainkan menghargai proses berpikir dengan kalimat yang positif seperti, ”Sudut pandangnya menarik, mari kita bahas bersama.” Selain itu, budayakan menghargai perbedaan. Latih siswa menyanggah pendapat lain dengan sopan.
Selain suasana bebas, sekolah perlu menyediakan wadah pengembangan diri untuk mewadahi semua bakat dan minat siswa dengan menyediakan fasilitas penunjang. Misalnya menyediakan ruang untuk memamerkan hasil karya, laboratorium kreatif, menyediakan forum diskusi, menyediakan wadah pengembangan minat seni, minat teknologi.
- Pembelajaran berbasis proyek
Pembelajaran berbasis proyek adalah sarana yang sangat fungsional dalam pengembangan kreativitas siswa karena para siswa berhadapan dengan masalah dunia nyata yang tidak memiliki satu jawaban yang benar, sehingga siswa dituntut untuk mencari solusi inovatif mereka sendiri.
Baca juga : Transformasi Menuju Sekolah Berbasis Teknologi: Persiapan, Manajemen Perubahan, dan Pengembangan Guru
Selain itu, dalam pembelajaran berbasis proyek siswa tidak hanya menerima informasi tetapi juga ditantang untuk menghasilkan solusi atau karya nyata. Dalam proses ini para siswa belajar berpikir mencoba berbagai kemungkinan, memperbaiki kesalahan, untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Dalam pembelajaran berbasis proyek siswa menjalani proses belajar yang sangat aktif. Mereka mengamati, bertanya, mengeksplorasi, bereksperimen, berkolaborasi untuk menghasilkan karya nyata untuk lingkungan sekitar siswa sendiri. Kreativitas hanya bisa tumbuh melalui pengalaman pembelajaran seperti itu.
Tantangan dalam pengembangan kreativitas di sekolah
Hingga kini pengembangan kreativitas di sekolah masih menghadapi berbagai tantangan. Di antaranya kurikulum resmi yang berlaku terlalu padat sehingga guru sering terburu-buru menyelesaikan materi tanpa menggunakan waktu untuk bersama siswa melakukan eksplorasi.
Selain itu hingga sekarang masih berlaku sistem penilaian yang masih mengandalkan hasil ujian tertulis dengan jawaban tunggal, sehingga siswa cenderung menghafal untuk menyiapkan ujian. Dengan demikian pembelajaran proyek dan pembelajaran yang berpusat pada siswa cenderung diabaikan. Ini sangat jauh dari pengembangan kreativitas.
Hambatan serius lainnya adalah metode pembelajaran seperti pembelajaran proyek memerlukan kolaborasi lintas bidang studi, sementara guru-guru kita tidak terbiasa bekerja secara kolaboratif padahal pembelajaran proyek hanya bisa berjalan jika guru-guru kita mau berkolaborasi di antara mereka. Nampaknya para kepala sekolah perlu memberi perhatian.
Itulah pembahasan mengenai peran pengajaran di sekolah sebagai sarana pengembangan kreativitas. Hingga kini sekolah-sekolah kita masih jauh dari harapan. Pengajaran kita belum selalu menjadi sarana pemgembangan kreativitas siswa. Mungkin inilah salah satu jawaban mengapa sarjana kita banyak yang menganggur.
Foto: Warta media online
