Depoedu.com-Pemerintah mengaku, bahwa kenaikan PPN menjadi 12 % mempengaruhi daya beli masyarakat. Walaupun tidak semua jenis barang yang dijual mengalami kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 12%, namun efek psikologis dari kenaikan pajak ini tidak bisa dipungkiri.
Diketahui bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 131/2024, kenaikan pajak pertambahan nilai menjadi 12% hanya untuk barang mewah berupa barang elektronik premium, televisi dengan ukuran di atas 75 inch, kendaraan bermotor kelas atas, perhiasan mahal, dan juga produk fesyen kelas premium.
Sedangkan termasuk jasa mewah menurut peraturan ini antara lain layanan penginapan premium, hiburan mewah, dan lainnya.
Tujuannya baik. Mereka yang berpenghasilan tinggi, yang berbelanja barang-barang mewah sebisanya memberi kontribusi lebih untuk meningkatkan pendapatan negara, tanpa menambah beban bagi masyarakat umum.
Sayangnya beban psikologis akibat kenaikan PPN semisal kekhawatiran akan stabilitas ekonomi, ketidakpastian perekonomian dan beban finansial lainnya, mengakibatkan resistensi sosial yang lebih tinggi.
Walaupun tidak ada kaitan langsung, namun di tengah situasi ekonomi yang belum stabil ini, ada kenyataan pahit yang juga sungguh menjadi keprihatinan bersama. Kenyataan bahwa tingkat pengangguran pada angkatan kerja berpendidikan sarjana sangat tinggi.
Badan Pusat Statistik (BPS) belum lama ini mencatat tingkat pengangguran sarjana lulusan universitas sebesar 842.378 orang per Agustus 2024. Walaupun angka tersebut menurun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yaitu per Agustus 2023 sebesar 981.203 orang.
Baca juga : Finlandia Jadi Negara Paling Bahagia di dunia. Ini Yang dilakukan Pemerintah Finlandia
Namun jumlah pengangguran tingkat sarjana ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan dalam 10 tahun terakhir. Dibandingkan dengan periode yang sama yaitu Agustus 2014, tercatat jumlah pengangguran sarjana “hanya” menyentuh angka 495.143 orang.
Walaupun pandemi covid-19 beberapa tahun lalu juga menjadi faktor dominan yang membuat peningkatan signifikan pada angka pengangguran, namun ini juga menunjukkan bahwa tren pertumbuhan ekonomi pasca pandemi covid-19 belum menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Disinyalir bahwa penyebab tingginya angka pengangguran lulusan sarjana sedemikian tinggi disebabkan oleh karena adanya ekspektasi yang begitu tinggi dan tuntutan dari pasar tenaga kerja akan pengetahuan dan keterampilan spesifik yang tinggi, sehingga membuat pasar tenaga kerja belum bisa memenuhi tuntutan tersebut.
Pada saat yang sama, para sarjana cenderung memilih-milih pekerjaan tanpa didukung oleh kesiapan pribadinya. Mereka mengharapkan dan membutuhkan pekerjaan-pekerjaan tertentu dengan kemampuan mereka yang seadanya, sementara pasar tenaga kerja membutuhkan pengetahuan dan keterampilan spesifik yang belum bisa mereka jangkau.
Ini bisa menjadi perhatian banyak pihak terkait. Para mahasiswa dan juga lembaga-lembaga pendidikan tinggi. Kepekaan untuk melihat kebutuhan pengetahuan dan keterampilan spesifik yang dibutuhkan pasar tenaga kerja, kemudian menciptakan lingkungan yang memungkinkan semua orang dapat mencapai standar-standar kebutuhan pasar tenaga kerja.
Pada saat yang sama, daya tahan dan kecepatan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang sedemikian pesat juga menjadi salah satu modal dasar yang harus dikuasai oleh para mahasiswa sebelum lulus.
Baca juga : Mengenal Sosok Guru Pertama dalam Sejarah Peradaban Umat Manusia
Secara individu, para mahasiswa juga perlu menyiapkan lingkungan yang ideal bagi dirinya untuk mempelajari dan menguasai pengetahuan dan keterampilan spesifik yang sesuai dengan latar belakang keilmuannya.
Kemudian memastikan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang ia kuasai benar-benar dibutuhkan oleh pasar tenaga kerja dalam jangka waktu yang panjang.
Kemampuan memprediksi bahwa keterampilan yang hendak dikuasai benar-benar dibutuhkan oleh pasar tenaga kerja dalam jangka panjang membutuhkan kepekaan untuk melihat tren kebutuhan tenaga kerja saat ini dan kebutuhan ke depan.
Tidak hanya itu, lembaga pendidikan dan para mahasiswa sendiri harus benar-benar yakin bahwa lingkungan yang telah mereka kembangkan untuk belajar benar-benar sesuai bahkan bisa melampaui perubahan-perubahan yang terjadi pada pasar tenaga kerja.
Salah satu kriteria pengetahuan dan keterampilan yang melampaui kebutuhan pasar tenaga kerja adalah kemampuan entrepreneur, keterampilan untuk memulai dan mengembangkan usaha produktif.
Jika para mahasiswa diberi lingkungan yang baik untuk fokus pada upaya untuk menciptakan dan mengembangkan usaha-usaha produktif, maka pada saat yang sama mereka menjadi solusi atas tingginya angka pengangguran bergelar sarjana yang sangat tinggi saat ini.
Foto: Suara Surabaya
Tulisan ini pernah tayang di eposdigi.com, ditayangkan kembali dengan seizin penulis.
