Depoedu.com-Selama lebih dari 10 tahun mengikuti kurikulum pendidikan kita, ada satu pertanyaan mendasar yang masih sulit saya jawab. Mengapa dengan berganti-gantinya kurikulum kemampuan matematika murid-murid kita juga tak menunjukkan perubahan yang signifikan?
Padahal uang yang kita gelontorkan untuk itu, waktu dan tenaga yang kita habiskan untuk pelatihan sudah sangat banyak. Apa mungkin kita harus menunggu Bilqis jadi menteri pendidikan?
Pertanyaan besar itu menghantui hari-hari saya. Tentu salah satu faktor utamanya adalah bagaimana pengajaran yang dilakukan oleh guru. Saya tak akan mengatakan ini murni kesalahan guru.
Yang mau saya tegaskan mengapa dengan beberapa kali pergantian kurikulum, cara pengajaran guru matematika kita nyaris tak membuahkan hasil yang signifikan? Secara logis kita bisa membuat asumsi bahwa apapun kurikulumnya, guru matematika hanya mengajar sebagaimana dulu dia diajar.
Sebagai konsultan pendidikan yang masih menjadi guru, saya punya banyak pengalaman soal cara mengajar guru. Dalam hal yang paling dasar saja, guru masih menjelaskan nilai tempat sebagaimana dulu (mungkin puluhan tahun yang lalu) mereka diajarkan.
Bagaimana guru mengajarkan luas persegi panjang dengan memberi rumus di papan lalu contoh soal juga nyaris tidak berubah.
Dari keresahan itu pertanyaan saya beralih menjadi, mengapa dengan gonta gantinya kurikulum tak mampu mengubah model pengajaran guru? Mau secanggih apapun kurikulumnya, mengapa pengajaran guru masih dominan satu arah dari guru ke murid?
Bahkan tak ada kurikulum yang berhasil bahkan sekedar menganti tata letak tempat duduk yang masih mirip bus (semua menghadap depan).
Beberapa minggu ini, mumpung libur sekolah, saya “main-main” ke jurnal pendidikan matematika yang dikenal paling bergengsi: ZDM. Nah kebetulan saya menemukan beberapa artikel terkait buku dan hubungannya dalam implementasi kurikulum.
Dari membaca beberapa artikel itu saya seolah menemukan jawaban pertanyaan saya. Sederhananya, yang membentuk cara pengajaran guru itu bukan kurikulum, melainkan buku ajar (buku paket).
Baca juga : Dibuka Pendaftaran Beasiswa Guru 2026 bagi Guru yang Belum Berpendidikan S1. Ini Syarat dan Cara Mendaftar
Sebagai guru, saya mendengar banyak cerita bagaimana guru sangat bergantung pada buku ajar (yang biasanya juga dipakai murid). Beberapa teman saya di sekolah favorit pun berpatokan penuh terkait bagaimana dan apa saja yang akan mereka ajarkan. Pun juga ragam soal yang akan diberikan. Jika di buku dituliskan rumus deret aritmatika, rumus itu pula yang akan dituliskan guru di papan.
Pengalaman saya ini sejalan dengan beberapa temuan di artikel ZDM, Fan et al (2025). Bahwa guru di Indonesia sering menjadikan buku ajar menjadi semacam blueprint (petunjuk praktis) tentang bagaimana mengajarkan suatu materi.
Nah dari ini muncul pertanyaan, bukannya bagus ya jika guru-guru di Indonesia ini mengajar sesuai buku? Bukannya itu malah menjaga kesesuaian dengan kurikulum?
Pertanyaan itu harus saya jawab dengan tantangan. Buku matematika mana di negara kita yang benar-benar menjiwai kurikulum yang berlangsung?
Dari pengamatan saya sebagai seorang yang pernah bertahun-tahun menjadi waka kur, yang salah satu tugasnya menentukan buku yang akan dipakai sekolah, saya nyaris tak menemukan buku yang mengejawantahkan kurikulum yang tengah diberlakukan.
Ketika berlaku K13 dengan pendekatan saintifik sebagai ruhnya, buku-buku kita hanya mengambil kulitnya yaitu kegiatan 5M. Tapi apakah pernah benar-benar memberikan panduan bagaimana guru memulai kegiatan menanya, jenis pertanyaan pemantik yang seharusnya digunakan? Bagaimana pula guru kudu mengajak murid mengkomunikasikan gagasan matematisnya? Pernahkah ada buku demikian?
Di kurikulum merdeka dengan pembelajaran berdiferensiasi, buku juga tak memberikan arahan yang jelas. Sebagai pembanding coba lihat buku pembelajaran berdiferensiasi untuk pelajaran matematika karya Marian Small (Kanada).
Buku kita selama ini hanya berfokus pada konten dan tak peduli bagaimana seharusnya proses pembelajaran berdiferensiasi dilakukan.
Buku-buku matematika kita seringkali hanya berisi urutan konten berisikan rumus dan kumpulan soal. Ditambah lagi, buku-buku lebih sering show off soal-soal yang sulit dikerjakan yang seharusnya untuk murid olimpiade.
Buku-buku kita menuntut murid untuk kreatif tapi kontennya tak mengarahkan ke berpikir kreatif. Sialnya buku yang tidak bermutu itu dijadikan “kitab suci” oleh guru-guru. Tulis apa yang ada dibuku, minta murid mengerjakan apa yang ada di buku, lalu buat soal ujian yang mirip dengan yang ada di buku.
Baca juga : Dominasi Orang Tua dan Guru dalam Proses Pendidikan Sebagai Salah Satu Masalah Pendidikan Kita
Buku yang seharusnya dijadikan referensi itu lah yang menjadi dinding penghalang terbesar mengapa kurikulum kita tak mampu mengubah cara pengajaran guru.
Di tengah kompetensi guru-guru kita yang bahkan menerjemahkan CP saja masih kesulitan, tentu menerjemahkan esensi kurikulum bukan hal yang mudah. Itu sebabnya banyak guru memilih mengikuti buku-buku. Sehingga sering terjadi pengajaran berbasis konten bukan kompetensi.
Dari penjabaran saya di atas dapat dikatakan bahwa kurikulum kita selalu kalah dengan konten di buku. Kedigdayaan kementerian pendidikan perancang kurikulum itu ternyata tak mampu mengalahkan dominasi penerbit buku.
Di tengah pelatihan kurikulum yang biasanya butuh biaya mahal, eksklusif dan hanya mengambil beberapa sampel, penerbit malah bisa menyebarkan isi bukunya ke seluruh antero negeri. Dan langsung bisa diterima lalu diterapkan oleh guru.
Betul, setiap kurikulum selalu hadir dengan buku versi kementerian pendidikan. Tapi kualitasnya tak jauh berbeda dengan buku dari penerbit. Malah setahu saya menjadikan buku-buku penerbit sebagai referensi.
Popularitas buku resmi pemerintah juga sering kali kalah dengan popularitas buku dari penerbit yang biasanya bisa berhadiah mobil atau umrah. (Sssttt…. Rahasia ya).
Dari kajian ini saya menyimpulkan, kalau kita mau memperbaiki kurikulum untuk pembelajaran matematika, sebaiknya kita perlu perbaikan kualitas buku-buku tersebut sebagai perpanjangan tangan kurikulum kita.
Buku-buku tersebut sebaiknya ditulis dalam bahasa yang paling teknis yang mudah dipahami guru. Para penerbit dituntut menyajikan bukan sekedar konten tapi juga proses bermatematika dalam bukunya, bukannya berlomba memberikan margin keuntungan yang menggiurkan.
Tak semua guru mengikuti pelatihan kurikulum baru. Tak semua guru yang mengikuti paham dengan esensi kurikulum. Tak semua yang paham mampu mempraktikkan.
Tak semua yang mempraktikkan dapat melakukan dengan benar. Tapi dari itu semua, setiap guru pasti punya buku ajar sebagai panduan. Cukupkan gonta-ganti kurikulum, saatnya perbaiki bukunya.
Foto: Kompas.com

[…] Baca juga : Kurikulum Kementerian Pendidikan VS Buku-buku Penerbit […]