Dua Agenda Penting yang Harus Menjadi Perhatian Semua Stakeholder Pendidikan, untuk Tumbuh Kembang Murid

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Saya memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan; apakah ada kaitan antara proses belajar, kebutuhan murid dan prestasi murid? Pertanyaan ini adalah pertanyaan penting yang perlu direnungkan oleh orang tua dan guru, karena mengandung tiga perkara penting dalam proses tumbuh kembang anak, termasuk  dalam proses belajar mengajar di sekolah. 

Mungkin hampir semua guru dan orang tua menjawabnya dengan mudah bahwa tiga perkara tersebut memang terkait, dan saling mempengaruhi. Prestasi belajar tinggi atau rendah sangat bergantung pada bagaimana proses belajar mengajar dijalani. 

Sedangkan antara proses belajar mengajar dengan kebutuhan anak  pun terkait, terutama karena proses belajar mengajar hanya berjalan dengan baik jika semua kebutuhan anak terpenuhi dengan baik. 

Dalam kenyataan, keterkaitan antara ketiga perkara ini dipahami seperti itu oleh kebanyakan orang tua dan guru. Namun dalam tindakan pendampingan, termasuk tindakan mendidik dan mengajar, keterkaitan antara tiga perkara ini sering secara tidak sadar diabaikan. Berikut uraiannya.

Proses belajar Murid

Dalam proses belajar, untuk mencapai prestasi terbaik seorang murid harus belajar dengan cara belajar yang efektif dengan gaya belajarnya sendiri. Namun berapa persen dari guru di sekolah mau mendampingi setiap murid untuk melatih keterampilan belajar yang sesuai dengan gaya belajar mereka?

Biasanya guru bahkan tidak peduli dengan penguasaan keterampilan  belajar dan gaya belajar para murid, yang penting mereka mencapai prestasi tinggi. Banyak guru bahkan tidak paham tentang keterampilan belajar, apa lagi gaya belajar para murid. 

Ahli pendidikan Neil Fleming mengelompokkan kurang lebih empat gaya belajar yakni gaya belajar visual,  gaya belajar auditori,  gaya belajar baca-tulis dan ada pula gaya belajar kinestetis. 

Baca juga : Erupsi Gunung Lewotobi, IGI Flores Timur Salurkan Bantuan Bagi Korban Terdampak

Harusnya guru mengenali gaya belajar yang paling dominan pada masing-masing murid dan menyesuaikan cara mengajar dengan gaya belajar murid secara individu agar masing-masing murid belajar secara efektif untuk mencapai prestasi belajar yang maksimal. 

Bahkan dalam proses belajar mengajar di banyak sekolah, misalnya gurunya mengajar dengan gaya mengajar yang visual, bertemu murid dengan gaya belajar kinestetik, murid tersebut sering dianggap tidak disiplin dan mengganggu, dalam proses belajar mengajar.

Menurut hemat saya inilah salah satu problem penting dalam proses belajar mengajar di sekolah-sekolah kita. Kita mengharapkan murid kita mencapai prestasi belajar sesuai dengan potensi mereka tapi kita tidak pernah mengajari murid tentang bagaimana belajar.

Kebutuhan murid

Problem lain yang juga serius adalah terkait dengan kebutuhan murid. Pada tingkat yang paling dasar, setiap murid memiliki kebutuhan psikologis dan fisiologis. Kebutuhan ini harus dipenuhi agar bisa terjadi proses belajar mengajar. 

Untuk memenuhinya, orang tua dan guru harus mengenali dan memahami terlebih dahulu apa saja yang dibutuhkan oleh murid agar proses belajar baik di rumah maupun di sekolah  dapat berjalan dengan baik.

Menurut Abraham Maslow, manusia membutuhkan lima hal baik fisik maupun psikis, yakni kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan  cinta-rasa memiliki, kebutuhan akan harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri. 

Kebutuhan fisiologis berkaitan dengan semua hal yang jika dipenuhi, seseorang akan merasa nyaman, seperti makanan, minuman, tidur yang cukup, bisa buang air kecil dan besar pada saatnya. Ini adalah kebutuhan yang dasar.  

Baca juga : Urgensi Penilaian Kinerja Guru Dalam Proses Pembelajaran

Kebutuhan yang berikut adalah kebutuhan akan rasa aman. Kebutuhan akan rasa aman terpenuhi jika secara fisik anak jauh dari ancaman bahaya di mana anak tidak cemas, tidak merasa ketakutan.

Berikutnya adalah kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki. Kebutuhan ini terpenuhi jika seorang anak dicintai dan diterima, dan diakui oleh keluarga, oleh komunitas atau kelompoknya. 

Kebutuhan berikutnya adalah kebutuhan akan harga diri. Kebutuhan ini akan terpenuhi jika seorang anak merasa diterima, merasa diri berharga di tengah orang lain disekelilingnya dan merasa percaya diri dalam melakukan tindakan.

Kebutuhan terakhir adalah kebutuhan akan aktualisasi diri. Kebutuhan ini akan terpenuhi jika seorang merasa nyaman dengan diri sendiri, merasa nyaman di tengah dunia, merasa diakui karena pencapaian terbaik telah diperoleh. 

Inilah yang disebut Abraham Maslow sebagai hirarki kebutuhan. Dimulai dari kebutuhan fisiologis sebagai kebutuhan paling dasar, hingga pada hirarki kebutuhan yang paling tinggi seperti kebutuhan akan harga diri dan aktualisasi diri. 

Sebagai hirarki kebutuhan, jika kebutuhan di tingkat bawah seperti kebutuhan fisik tidak terpenuhi maka kebutuhan di tingkat di atasnya seperti harga diri dan aktualisasi diri tidak akan terpenuhi dengan sendirinya. 

Misalnya, seorang murid kurang asupan makanan bergizi, sehingga secara fisik kelihatan lemah, oleh karena itu, sering di-bully oleh teman-temannya. Ini menyebabkan kebutuhan akan rasa aman tidak terpenuhi, ia bahkan merasa  tidak dicintai oleh lingkungannya dan pasti merasa diri tidak berharga.

Baca juga : Bagaimana Orang Tua Dan Guru Membentuk Kebiasaan Belajar Seorang Anak?

Murid seperti ini pasti mengalami hambatan berprestasi. Padahal prestasi yang diperoleh murid menjadi indikator pemenuhan kebutuhan akan aktualisasi diri, pada hirarki kebutuhan tertinggi menurut Abraham Maslow. 

Dengan menggunakan kerangka hirarki kebutuhan Maslow ini kita bisa melihat bahwa banyak praktik pendidikan yang selama ini berjalan mendesak untuk diperbaiki, seperti penggunaan metode menghukum dalam upaya memperbaiki perilaku murid di sekolah.

Karena metode menghukum berfokus membuat murid malu, melukai harga diri dan membuat mereka jera. Tidak membuat murid merasa menjadi lebih positif. Ini bukan dasar tumbuh kembang murid dalam pendidikan. 

Selain itu, lingkungan sekolah perlu dijaga agar jauh dari tindakan kekerasan dan bullying, karena murid akan merasa tidak aman, tidak merasa diterima oleh lingkungannya, tidak merasa berharga, apalagi merasa dicintai. 

Kekerasan dan bullying menjadi hambatan lain yang sangat serius bagi pemenuhan kebutuhan rasa aman, rasa cinta, harga diri, dan pasti jauh dari pemenuhan akan kebutuhan aktualisasi diri sebagai indikator tumbuh kembang murid. 

Inilah dua problem penting dunia pendidikan kita yakni bagaimana mendampingi murid untuk mengenali, mengembangkan keterampilan belajar, gaya belajar serta bagaimana memenuhi kebutuhan murid.

Jika dua problem ini sudah menjadi perhatian semua stakeholder pendidikan, maka tumbuh kembang murid yang menjadi tujuan tertinggi dari penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di sekolah menjadi lebih terbuka untuk dicapai. 

Foto: Kajian Pustaka

5 3 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments