Kunjungan Kelas Sebagai Upaya Mendorong Iklim Belajar Bersama Untuk Pemerataan Penguasaan Kompetensi Guru

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com- Pada hampir semua sekolah, tingkat penguasaan kompetensi profesional guru tidak seragam. Ada guru yang sangat kompeten, ada guru yang kompetensinya standar, dan ada guru yang kompentensi yang di bawah standar. Bahkan di banyak sekolah, penguasaan kompetensi gurunya lebih banyak yang di bawah standar.

Guru kompeten menurut saya adalah guru yang menguasai dan dapat menggunakan pendekatan konstruktif dalam proses belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar, guru yang kompeten berusaha memfasilitasi proses berpikir peserta didik.

Dalam proses tersebut, peserta didik dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, dan berlatih menggunakan pengetahuan tersebut, untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi.

Guru yang kompeten, mendesain kelasnya sedemikian rupa agar peserta didik menggunakan semakin banyak inderanya dalam proses belajar mengajar. Peserta didik tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga mengamati, mengumpulkan data, menyimpulkan, mengkomunikasi, menyusun refleksi, dan mempertanggungjawabkan pemikirannya.

Sedangkan guru yang kompetensinya standar adalah guru yang secara teori mengetahui gagasan pengajaran modern seperti pendekatan konstruktif, tahu tentang psikologi pendidikan dan pengajaran, tetapi memilih untuk tidak menerapkannya dalam proses belajar mengajar.

Baca Juga : Guru Kompeten, Indonesia Maju

Guru seperti ini, menganggap bahwa pengajaran dengan pendekatan konstrukif terlalu rumit diterapkan sehingga tidak berlatih menerapkannya ketika dia mengajar. Apalagi sekolah tempat dia mengajar pun tidak menuntut gurunya untuk menggunakan pendekatan pengajaran seperti konstruksi.

Tindakan pendidikan dan pengajarannya mungkin tidak menimbulkan komplain dari para peserta didik dan orang tua, namun guru seperti ini tidak termasuk guru yang tindakan pendidikan dan pengajarannya, menumbuhkan peserta didiknya secara maksimal dan utuh.

Bagi mereka, satu-satunya pendekatan yang mereka kuasai adalah pendekatan transfer, pendekatan yang secara natural dikuasai dari pengalaman bersekolah. Persiapan yang mereka lakukan adalah membaca topik yang akan diajarkan dan menyampaikan kembali di kelas ketika ia mengajar.

Oleh karena itu, indera murid yang digunakan pada proses belajar mengajar guru tersebut, adalah indera pendengaran. Selain itu, mungkin murid harus mencatat dari apa yang didengar karena nanti akan direproduksi kembali ketika ulangan atau ujian tiba.

Proses belajar murid pada kelas yang diajar oleh kelompok guru ini, sangat terbatas, bahkan yang terbatas inipun dapat segera dilupakan, sehingga proses belajar mengajar dengan kelompok guru ini sama sekali tidak ada hasilnya.

Baca Juga : Dr. H. Tabrani, M.Pd; Penugasan Guru Menjadi Kepala Sekolah Harus Memenuhi Persyaratan

Ketiga kelompok guru ini, ada pada hampir semua sekolah. Oleh karena itu, para kepala sekolah dan pihak terkait lainnya harus memikirkan pendekatan untuk meningkatkan kompetensi guru, terutama guru pada kelompok kedua dan kelompok ketiga.

Selama ini intervensi melalui pelatihan dan supervisi serta pembinaan lanjutan terbukti kurang efektif. Melalui tulisan ini, saya mengusulkan pendekatan lain yang berbasis pada upaya untuk mendorong proses belajar bersama melalui kunjungan kelas.

Kunjungan kelas antar guru

Kunjungan kelas tidak dimaksudkan untuk menggantikan pelatihan rutin, supervisi kepala sekolah, dan pembinaan lanjutan berdasarkan hasil supervisi. Kunjungan kelas dimaksudkan untuk melengkapi upaya pelatihan dan supervisi agar kompetensi semua guru berkembang lebih maksimal.

Tujuan kunjungan kelas adalah pertama, mendorong suasana saling belajar antara guru melalui contoh proses belajar mengajar maupun melalui permasalahan yang ditemukan dalam kunjungan kelas.

Belajar melalui contoh tentu saja akan terjadi ketika guru mengunjungi kelas dari guru yang kompeten. Contoh yang dilihat melalui kunjungan kelas, diyakini lebih menginspirasi guru yang mengunjungi, untuk mengggunakan pendekatan yang sama dalam pengajarannya. Inspirasi yang diperoleh, dipandang lebih kuat mendorong guru untuk meningkatkan proses pengajaran, demi meningkatkan kompetensinya.

Baca Juga : Ini Penelitian Stanford University, Kualitas Banyak Kepala Sekolah Di Indonesia Meragukan

Proses belajar bersama juga dapat terjadi melalui temuan permasalahan ketika guru melakukan kunjungan kelas. Dapat terjadi pada saat guru yang kompeten melakukan kunjungan kelas. Temuan permasalahan jika dikomunikasikan dengan baik akan menjadi langkah awal untuk melakukan perubahan.

Kedua, kunjungan kelas mendorong pemerataan peningkatan penguasaan kompetensi di antara para guru pada satu sekolah. Pada banyak sekolah, penguasaan kompetensi guru tidak merata karena tidak ada mekanisme seperti kunjungan kelas dan tindak lanjutnya.

Karena jumlah guru yang kompeten lebih sedikit, maka seringkali mereka yang dipengaruhi oleh guru yang memiliki kompetensi menengah ke bawah untuk kemudian menjadi guru yang biasa-biasa saja.

Dengan kunjungan kelas, guru yang kompeten diharapkan mempengaruhi guru dua kelompok yang lain, sehingga terjadi proses ke arah pemerataan kompetensi.

Gambaran detail tentang gagasan kunjungan kelas.

Kepala sekolah mewajibkan guru untuk mengunjungi kelas guru lain yang sedang mengajar di kelasnya. Jumlahnya ditetapkan oleh kepala sekolah sesuai dengan kebutuhan. Misalnya dua kali dalam 1 semester. Satu kali kunjungan dengan bidang studi serumpun dan berikutnya dengan guru di luar rumpunnya.

Baca Juga : Basa-Basi Asesmen Nasional?

Pada saat mengunjungi, guru yang berkunjung, dilengkapi dengan format kunjungan standar yang sudah disiapkan oleh kepala sekolah sebelumnya. Format tersebut digunakan guru yang berkunjung, untuk mencatat hal apa yang sudah dilakukan dengan baik oleh guru di kelas yang dikunjungi.

Guru yang berkunjung juga wajib mencatat hal-hal apa yang dipelajari atau inspirasi yang diperoleh dari kunjungan kelas tersebut. Berdasarkan inspirasi tersebut, guru yang berkunjung diwajibkan untuk mencatat apa rencana yang akan dia perbaiki di kelasnya sendiri ketika ia mengajar.

Di samping itu, guru yang berkunjung diwajibkan untuk memberi usul jika ada hal yang ia temukan ketika ia menjalani kunjungan kelas. Selain itu, guru yang mengunjungi kelas merumuskan kesimpulan penting yang bisa ia temukan.

Catatan kunjungan kelas ini, kemudian diserahkan pada kepala sekolah segera setelah kunjungan kelas dilakukan.

Berdasarkan laporan kunjungan kelas tersebut, kepala sekolah memfasilitasi diskusi, mengklarifikasi, menegaskan, dan memperkuat catatan kunjungan kelas, serta membantu guru, baik yang dikunjungi maupun yang mengunjungi, untuk pengembangan kompetensi dan melakukan perubahan jika diperlukan.

Pada akhir periode, setelah satu semester, kepala sekolah membuat rangkuman berdasarkan laporan kunjungan kelas tersebut. Rangkuman tersebut lebih lanjut dibahas dalam rapat dengan dewan guru untuk mengevaluasi, dan merencanakan kunjungan kelas periode berikutnya.

Baca Juga : Asesmen Nasional, Trasformasi Sekolah Dan Pengembangan Mutu Pendidikan

Pada proses di atas, kunjungan kelas didesain untuk mendorong proses belajar bersama antar guru, baik yang kompeten maupun guru yang memiliki kometensi menengah ke bawah.

Saya yakin ketika berkunjung ke kelas guru yang kompeten, guru yang berkunjung melihat contoh pendekatan pengajaran dan penerapan metodologi pengajaran yang ideal, lebih mampu menginspirasi guru yang berkunjung untuk berubah ke arah yang lebih kompeten.

Tentu saja sebagai gagasan pasti ada titik lemahnya, namun ini adalah satu ikhtiar untuk meningkatkan kompetensi guru.

Saya yakin di semua sekolah, ada banyak guru yang kompeten. Dengan kunjungan kelas ke kelas guru yang kompeten, dapat menjadi kelas yang dapat dicontoh, sekaligus mereka menularkan kompetensi mereka pada guru yang lain. Sesuatu yang mustahil terjadi jika tidak ada kunjungan kelas.

Mari kita coba. Mudah-mudahan kunjungan kelas dapat menjadi terobosan yang produktif ke arah pendidikan dan pengajaran yang bermutu. Sehingga sekolah dan pengajaran kita, menjadi tempat tumbuh bagi peserta didik kita. Dan bukan menjadi tempat yang mereduksi pertumbuhan para peserta didik kita.

Foto: sdn-margahayuraya.sch.id

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca Juga : Kunjungan Kelas Sebagai Upaya Mendorong Iklim Belajar Bersama Untuk Pemerataan Penguasaan Kompetensi… […]